Ini tema dari kultum yang sangat memberikan pengetahuan kepada diriku, bagaimana para ulama menentukan Hisab dan Hilal Ramadhan dan Syawal dengan melihat bulan, dan bagaimana bisa terkadang terjadi perbedaan waktu seperti tahun yang lalu.
Hisab untuk melihat bulan tersebut :
1. Akan ditarik kesimpulan yang sama apabila posisi bulan 0 - 3 derajat
2. Akan ditarik kesimpulan yang berbeda apabila posisi bulan 0 - 2 derajat
Pada posisi 0 - 3 derajat ini kita dapat melihat kemunculan bulan secara mata telanjang, sedangkan posisi 0 - 2 derajat merupakan posisi samar-samar, sehingga terkadang beberapa aliran islam diindonesia telah memutuskan masuk bulan di posisi 2 derajat tersebut ada yang menunggu hingga bulan di posisi 3 derajat.
Untuk di Indonesia mulai tahun ini, setiap daerah di lihat hisab bulannya melalui mata ulama yang telah di sumpah sebelumnya, sehingga tidak menimbulkan keraguan di kalangan masyarakat.
Jadi janganlah heran lagi bila terjadi perbedaan penentuan bulan pada bulan ramadhan/syawal selanjutnya, mungkin saja posisi bulannya pada posisi 0 - 2 derajat.

Diposkan oleh opexone Rabu, 23 September 2009 0 komentar

Saya mendengar pembahasan tentang seorang imam ini dari kultum ramadhan di masjid daerah saya. Ada dua hal penting sekali untuk menjadi seorang imam yang apabila diterapkan dalam kepemimpinan akan menjadi sangat baik sekali, yaitu Jujur dan baik.
Dicontohkan dalam solat, seorang imam harus memberikan contoh yang baik berupa fasih dalam membacakan ayat-ayat al qur'an dan jujur dalam pelaksanaan solatnya. Maksud jujur disini adalah, seandainya dalam melaksanakan solat tersebut tiba-tiba sang imam buang angin (walau tidak terdengar oleh makmumnya), sang imam harus mundur untuk digantikan oleh imam yang baru (biasanya orang berada tepat dibelakang imam).
Bayangkan bila sang imam tidak berhenti sebagai imam padahal dirinya telah tidak suci lagi dan akibat perbuatannya pula mengundang tanda tanya dari para pengikutnya (makmumnya). Betapa besar sekali dosa yang dipikul oleh sang imam.
Dalam kehidupan sehari-hari seorang pemimpin haruslah jujur dan baik. Dicontohkan seorang pemimpin harus baik kepada bawahannya dan jujur terhadap perusahaan/instansi yang dipimpinnya. Bila seorang pemimpin itu baik terhadap bawahannya, tentu saja bawahannya akan hormat dan sangat menyanjung pimpinan tersebut. Ditambah lagi bila seorang pimpinan itu jujur, maka kepemimpinannya tidak akan ada seorangpun yang berani menanyakannya (memperdebatkannya).

Diposkan oleh opexone Selasa, 22 September 2009 0 komentar

Saya sangat tertarik untuk menulis masalah ini. Hal ini terkait sewaktu saya mendengarkan Kultum dari seorang ustad yang membahas mengenai Tarawih ini.
Ternyata kata Tarawih tersebut merupakan kata yang berarti kurang lebih bersantai/beristirahat. Sehingga dalam prakteknya solat sunat yang dilaksanakan cukup melelahkan dan perlu istirahat bagi yang sudah letih.
Kalimat Tarawih ini muncul pada era Khalifah, dan Khalifah Umar pun mengatakan "Tarawih ini merupakan sebaik-baiknya Bid 'ah". Sedangkan hadits maupun ayat yang mengatakan atau menceritakan mengenai tarawih ini tidak ada sama sekali.
Jadi pertanyaan pun muncul... jadi solat apa yang dilakukan setiap malam ramadhan itu?
Ceritanya kurang lebih sebagai berikut:
Rada malam ramadhan, Nabi Muhammad SAW melakukan solat sunah ramadhan (Kyamul ramadhan). Namun beliau melaksanakan solat sunah ini hanya dua kali di masjid, setelah itu beliau lakukan dirumah.
Mengapa demikian? Rasullullah khawatir, solat yang dilakukan ini nantinya dianggap oleh para sahabat sebagai solat fardhu, sehingga Rasullullah melaksanakan dirumahnya.
Namun banyak sahabat yang melakukan solat sunah ramadhan ini, bahkan lucunya di masjid-masjid ramai yang melaksanakan namun secara individu dan terpencar-pencar.
Melihat hal ini akhirnya Rasullullah memutuskan untuk menyatukan solat sunah ini (berjamaah) dan di imamin oleh sahabat Rasul bernama Ubai.
Adapun solat sunah ramadhan itu terdiri atas 4-4-3. dan dimulai dari surat Al-Baqarah. Sehingga solatnya bisa dikatakan dalam satu rekaat bisa terdiri atas puluhan ayat. Sehingga tidak asing lagi solat sunah ramadhan ini selesai mendekati waktu Imsak dan dalam 3 hari Al qur'an selesai dibacakan. Ini berlangsung terus hingga era Khalifah.
Namun efek samping dari pelaksanaan solat sunah ini adalah banyak para makmum yang berdiri tidak sempurna lagi dalam melaksanakan solatnya dan banyak kaki para makmum yang menjadi bengkak, sehingga ke khusukan dalam melaksanakan solat berkurang. Hal ini dilihat oleh Khalifah Umar, sehingga Khalifah Umar melakukan inisiatif dengan memecah rekaat solat sunah ramadhan ini menjadi 21 rekaat yang dibagai atas 2-2-2...3, dan diantara rekaat itu bagi yang kelelahan diperbolehkan untuk beristirahat. Nah, sejak itu keluarlah istilah Tarawih.
Dan bahkan ada khalifah yang membaginya menjadi 30 lebih rekaatnya, namun urutan dalam membacakan suratnya tetap sama yaitu dimulai dari surat Al-Baqarah.
Nah, sekarang kita bandingkan dengan solat sunah ramadhan yang kita lakukan sekarang... betapa banyak sekali kemudahan yang telah diberikan.

Diposkan oleh opexone Sabtu, 05 September 2009 0 komentar

Subscribe here